Pengalaman Berjelajah di Gurun Qatar

Pengalaman Berjelajah di Gurun Qatar

Pertama kali menjejakkan diri di Qatar ketika pesawat Qatar Airways telah mendarat mulus di bandara Internasional Doha, hal yang menjadi bayangan adalah bahwa negeri itu hanya akan menampilkan pemandangan berupa padang pasir saja. Nyatanya, barisan lampu pun menghiasi kota Doha, saat kami yang bergabung dalam tim Honda guna menyaksikan secara langsung MotoGP Qatar, kami melakukan perjalanan sekitar 15 menit dari bandara ke hotel Ramada Plaza, Doha.

Terangnya lampu yang menyinari setiap sudut kota, membikin Qatar seolah tak tidur kendati waktu telah menunjukan pukul 22.30. Padahal, jumlah kendaraan serta orang yang lalu-lalang tak seramai saat saya berada di Jakarta. Cuacanya pun tak seperti yang dibayangkan sebelumnya, sebab ternyata cukup dingin lantaran angin yang berembus terbilang kencang.

Bisa jadi sebab kami datang saat Qatar ketika sedang musim semi, hingga membuat suhu udara berkisar antara 20 – 30 derajat celcius. Padahal, negara dengan luas hanya 11.437 kilometer per segi itu mempunyai iklim ekstrem, di mana ketika musim dingin dapat lebih rendah dari 10 derajat celcius, sementara saat musim panas lebih dari 30 derajat celcius, yang berarti sangat panas.

Saat bangun pagi, semua menjadi lebih jelas. Dan yang jelas, negara yang tengah gencar melakukan pembangunan sebagai persiapan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 itu menyulap kondisi alamnya yang serba pasir itu jadi deretan gedung tinggi nan megah. “Semua itu hanyalah bagian dari kampanye menyambut Piala Dunia, kendati gedung-gedung itu tidak digunakan untuk aktivitas,” Kata Johny, WNI yang telah tinggal di Qatar selama 6 tahun.

 

Pengalaman Berjelajah di Gurun Qatar

Betul, Doha kini beralih menjadi kota modern. Limpahan gas serta minyak bumi membikin mereka dengan pun terasa mudah untuk mewujudkan apa yang jadi keinginan. “Saking kayanya, uang dari FIFA (Federasi sepak bola dunia) sebagai hak tuan rumah, pun tidak diambil. Malah, stadion-stadion yang kini dibangun akan dibongkar lagi ketika Piala Dunia selesai,” ungkap Johny.

Nah, itulah Qatar yang sangat “sombong” karena mempunyai kekayaan alam melimpah. Wajar bila negara yang berlokasi di sebuah semenanjung kecil di Jazirah Arab ini menghasilkan gaji yang tinggi untuk para pekerjanya, yakni pegawai terendah di lingkungan pemerintahan dibayar paling sedikit 8.000 dollar AS.

Maka, wajar jika mereka mempunyai beberapa bangunan mewah yang sempat dikunjungi. Tempat-tempat itu terdiri atas Museum of Islamic Art, yang di dalamnya terdapat koleksi tentang Islam, yang barang-barangnya asalnya dari Spanyol, Mesin, Iran, Irak, Turki, India, dan Asia Tengah. Museum berluas 45.000 meter per segi tersebut dibuat di atas air dan dikelilingi taman.

Selain itu ada desa budaya, yaitu Katara Village, yang berlokasi di antara Doha West Bay dan Mutiara. Terdapat begitu banyak organisasi Qatar yang berkantor di sini, termasuk Perkumpulan Engineering Qatar, Qatar Fine Arts Society, Visual Art Centre, Qatar Photographic Society, Childhood Cultural Centre, Theatre Society hingga Qatar Music Academy.

Bangunan mewah lainnya yakni pusat perbelanjaan Villaggio Mall, yang berlokasi di Zona Aspire di ujung barat Doha. Di dalam mall ini terdapat banyak toko yang menjual barang-barang merek terkenal di AS, Inggris, Italia, dan Jerman. Yang menariknya lagi, desainnya cukup mengagumkan karena langit-langit mall satu lantai ini dibuat seolah-olah berada di alam terbuka, dan ada grand canal hingga para pengunjung dapat naik sampan ketika menikmati mall yang luas itu.

Baca Juga : Tips Terbaru Menangkan Togel Online

Namun yang membuat saya sangat terkesan ketika berada di Qatar adalah wisata padang pasir alias desert safari. Negara dengan jumlah penduduk 1,8 juta jiwa tersebut (sensus 2011) memanfaatkan kondisi alamnya itu untuk membuat wisatawan selalu mengingatnya.

Nama padang gurun tempat yang terletak 70 kilometer dari Doha adalah Khor Al Udaid, yang ada di wilayah selatan Qatar. Menempuh perjalanan sekitar setengah jam dari Doha, kami sampai di kawasan itu, yang disebut-sebut sebagai wisata gurun pasir terbaik di seluruh negeri Arab.

“Seluruh wisatawan yang datang ke Qatar tentu berharap dapat bisa merasakan safari gurun pasir sebab di sanalah wisata gurun terbaik, kendati terdapat juga wisata padang pasir di negara lain di Arab,” ungkap pemandu wisata asal Nepal yang menemani kami, Harry.

Sebelum memulai perjalanan di padang pasir, saya serta beberapa rekan mencoba hiburan lain yakni menunggang unta, usai membayar 20 Riyal Qatar (sekitar Rp 50.000). Selnjutnya kami pun merasakan sensasi berada di punggung binatang padang pasir itu walaupun tak lebih dari lima menit, kami awali petualang padang pasir memakai mobil yang digunakan medan berat. Semuanya, terdapat tujuh mobil yang dipakai rombongan kami.

 

Safari gurun pasir tersebut berlangsung hingga sekitar tiga jam. Di pukul 13.00, kami kembali ke Doha, dengan lebih dulu singgah ke base camp para pemandu wisata di padang gurun itu, yang terletak di bibir pantai. Biaya safari tersebut tak dapat diperkirakan, sebab tergantung agen dan musim.